Kanolar Mulai Digaungkan Kecamatan Pekalongan Barat

Kota Pekalongan – Kecamatan Pekalongan Barat kembali menggelar kegiatan Catur Pilar Triwulan II yang diikuti oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Karang Taruna, Tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) se- Kecamatan Peklaongan Barat, Kota Pekalongan, Rabu malam (4/9/2019). Kegiatan ini mendiskusikan permasalahan persampahan di Kota Pekalongan khususnya di Kecamatan Pekalongan Barat dengan menghadirkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota pekalongan.
Turut hadir membuka acara Sekda Kota Pekalongan, Hj Sri Ruminingsih SE MSi. Ia menekankan sinergitas pemerintah dan masyarakat dalam penanganan dan pengelolaan sampah di Kota Pekalongan. “Di samping Pemkot Pekalongan mengupayakan untuk program dan kebijakan mengatasi sampah, masyarakat juga harus andil mendukung serta berpartisipasi dalam menangani sampah,” tutur Sri Ruminingsih.
Sementara itu, Camat pekalongan Barat Muchamad Natsir MSi mengungkap sebuah program yang sudah diusulkan dalam Musrenbang yakni Kampung Nono Larahan (Kanolar). Menurut Natsir permasalahan sampah di Kota Pekalongan harus menjadi perhatian serius, jumlah sampah yang diproduksi oleh masyarakat Kota Pekalongan per harinya sangat banyak. “Makanya dulu sempat digaungkan tentang zero waste, dan kami ingin menggalakkannya lagi melalui program Kanolar, Kampung Nono Larahan,” tutur Natsir.
Menurut Natsir, Kanolar akan menjadi stimulan bagi kampung-kampung lain. Di program Kanolar ini nantinya ada beragam kegiatan seperti komposisasi sampah organik di tingkat rumah tangga. Sampah organik diolah agar bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Selain itu ada pula bank sampah di satu kawasan kampung-kampung. “Sampah-sampah organik nantinya kan dibuat pupuk kompos sedangkan sampah anorganik akan dikumpulkan dan dijual ke pengepul untuk untuk membeli pot-pot tanaman,” terang Natsir.
Untuk ke depannya Kanolar akan dibentuk kepengurusannya. Dan DLH Kota Pekalongan akan menempatkan fungsinya dalam bentuk pendampingan. Harapannya nanti ada channeling dengan pengepul ataupun pengelola bank sampah di tingkat kota. Nantinya, kanolar ini bisa terlaksana dengan adanya kerjasama dan sinergitas berbagai pihak, terutama OPD terkait. “Kalau ini disambut oleh OPD terkait, sesuai dengan tugas kewenangannya masing-masing, maka akan ada sinergi dan ada semacam ‘money flow program’. Artinya ada anggaran yang mengarah pada satu program untuk menyelesaikan suatu permasalahan dari berbagai anggaran yang ada di berbagai OPD,” pungkas Natsir.
Turut hadir membuka acara Sekda Kota Pekalongan, Hj Sri Ruminingsih SE MSi. Ia menekankan sinergitas pemerintah dan masyarakat dalam penanganan dan pengelolaan sampah di Kota Pekalongan. “Di samping Pemkot Pekalongan mengupayakan untuk program dan kebijakan mengatasi sampah, masyarakat juga harus andil mendukung serta berpartisipasi dalam menangani sampah,” tutur Sri Ruminingsih.
Sementara itu, Camat pekalongan Barat Muchamad Natsir MSi mengungkap sebuah program yang sudah diusulkan dalam Musrenbang yakni Kampung Nono Larahan (Kanolar). Menurut Natsir permasalahan sampah di Kota Pekalongan harus menjadi perhatian serius, jumlah sampah yang diproduksi oleh masyarakat Kota Pekalongan per harinya sangat banyak. “Makanya dulu sempat digaungkan tentang zero waste, dan kami ingin menggalakkannya lagi melalui program Kanolar, Kampung Nono Larahan,” tutur Natsir.
Menurut Natsir, Kanolar akan menjadi stimulan bagi kampung-kampung lain. Di program Kanolar ini nantinya ada beragam kegiatan seperti komposisasi sampah organik di tingkat rumah tangga. Sampah organik diolah agar bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Selain itu ada pula bank sampah di satu kawasan kampung-kampung. “Sampah-sampah organik nantinya kan dibuat pupuk kompos sedangkan sampah anorganik akan dikumpulkan dan dijual ke pengepul untuk untuk membeli pot-pot tanaman,” terang Natsir.
Untuk ke depannya Kanolar akan dibentuk kepengurusannya. Dan DLH Kota Pekalongan akan menempatkan fungsinya dalam bentuk pendampingan. Harapannya nanti ada channeling dengan pengepul ataupun pengelola bank sampah di tingkat kota. Nantinya, kanolar ini bisa terlaksana dengan adanya kerjasama dan sinergitas berbagai pihak, terutama OPD terkait. “Kalau ini disambut oleh OPD terkait, sesuai dengan tugas kewenangannya masing-masing, maka akan ada sinergi dan ada semacam ‘money flow program’. Artinya ada anggaran yang mengarah pada satu program untuk menyelesaikan suatu permasalahan dari berbagai anggaran yang ada di berbagai OPD,” pungkas Natsir.